Senin, 30 Maret 2009

Pilih Ka’ Leh!

Kampung gempar. Aco’ biangnya. Juragan ayam potong yang terkenal sekke’ dan galak ini, tiba-tiba berubah menjadi

sosok yang ramah dan dermawan.


“Benar nih, Pak Aco’?” tanya Aci heran.

Pedagang pasar ini hampir tak percaya dengan apa yang dialaminya. Ia diberi diskon 25 persen untuk pembelian ayam potong Aco’.


Maklum, selama ini sang juragan ayam dikenal paling pelit, tak pernah mau cippe’ biar 5 rupiah.


Yang ditanya tersenyum, sambil menganggukkan kepala.


Hanya dalam hitungan jam, peristiwa langka itu langsung ter-sebar ke seluruh kampung. Nama Aco’ pun melambung tinggi, menjadi buah bibir.


Siapa saja yang bertemu dengannya di jalan, disapanya de-ngan ramah. Masjid-Masjid ia sumbang. Tetangga yang miskin, ia bantu.


Sekitar 2 minggu kemu-dian, foto Aco’ terpampang di sebuah pamflet besar di tepi jalan. Ooo…ternyata sang juragan maju ke pemilihan legislatif.

“Pantas!” komentar warga.

“Pilih ka’ leh!” katanya kepada orang-orang, dengan se- nyum malu-malu.

Begitulah. Musim Pemilih-an Anggota Legislatif selalu luar biasa, bisa merubah siapa saja.

Orang-orang boleh saja mencibir ; “Karena ada mau!” Tapi sesungguhnya, hal ini syah-syah saja ; manusiawi!Perubahan seperti ini justru mengingatkan kita semua, bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang telah ditakdirkan hidup bermasyarakat dan saling membutuhkan.

Dan sudah menjadi hokum-Nya, ketika kita mem-butuhkan orang lain, kita juga harus bisa menghormati dan menghargai mereka, membuat mereka merasa nyaman dengan kehadiran kita.

Jadi sangat lumrah jika para caleg kita tiba-tiba tampil sebagai sosok yang lebih baik di musim kampanye ini. Justru aneh jika mereka menunjukkan perilaku yang buruk dan mengundang antipati masyarakat di saat-saat yang menentukan ini.

Selalu ada kebaikan da-lam setiap keadaan. Alangkah bijaknya jika kita tidak langsung mencibir. Tidak mustahil per-formance simpatik para caleg kita ini akan terus terbawa, bukan hanya selama masa kampanye.

Pemilihan para wakil rakyat ini, setidaknya, bisa menjadi ajang perbaikan akhlak. Dari sini, para caleg kita bisa mulai memperbaiki diri, sebelum benar-benar terpilih sebagai wakil rakyat.

Kalaupun nantinya tidak terpilih, akhlak baik itu tetap dibutuhkan dalam kehidupan ber-masyarakat. Bukan begitu, Pak? (*)

*Dian Amrullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar